IKLAN
Tampilkan postingan dengan label kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecelakaan. Tampilkan semua postingan

Horor! Begini Pers Release Kronologi Satu Keluarga di Tangerang Dihabisi Gara-gara Cicilan Mobil, Lihat Videonya


Beritaterheboh.com - Cicilan kreditan mobil digadang-gadang menjadi pemicu Muchtar Efendi atau akbran dipanggil Abi menghabisi nyawa istri dan dua anaknya.

Tiga mayat Emah (40), Nova (19) dan Tiara (11) ditemukan warga di Perumahan Taman Kota Permai 2 Blok B6 Priuk, Kota Tangerang, Senin (12/2/2018).

TribunnewsBogor.com melansir Warta Kota, Polresta Tangerang telah menetapkan pria berusia 60 tahun ini sebagai tersangka dalam tragedi pembantaian itu.

Pelaku membunuh para korban lantaran faktor ekonomi.

"Berdasarkan hasil otopsi ketiga korban ada beberapa luka tusukan di leher, perut, satu korban dalam keadaan luka parah, Muchtar Efendi dari hasil keterangan awal serta petunjuk, kami tetapkan sebagai tersangka," kata Kapolrestro Tangerang Komisaris Besar Harry Kurniawan, Selasa (13/2/2018).


Harry mengatakan, pelaku membunuh istri dan kedua anak tirinya lantaran emosi.

Sebab sang istri mencicil mobil tanpa sepengetahuannya. Tersangka ini tidak mau memberikan uang cicilan untuk membayar mobil yang dibeli Emah. Dari situ, tersangka terus bertengkar.


"Tiga hari sebelum kejadian pembunuhan terjadi, ada cekcok antara Emah sebagai korban istri siri ME terkait masalah jual beli mobil yang dilakukan istrinya ini tidak disetujui, selama tiga hari cekcok terjadi di rumah itu yang akhirnya diakhiri pembunuhan," katanya.

Sering bertengkar

Rohayati, tetangga korban pembunuhan mengungkapkan, korban, baik Effendi dan Emma kerap terlibat pertengkaran.

Saat itu, Rohayati bercerita, dirinya sedang makan bersama suaminya di rumah.

Pas dengar itu saya lagi makan sama suami, suami baru pulang kerja," kata Rohayati.

Rohayati mengaku kerap mendengar suara ribut di rumah korban.


"Biasa sering mereka berantem, kemarin terakhir dengar suara piring pecah," kata Rohayati

Namun Rohayati enggan ikut campur lebih jauh urusan rumah tangga tetangganya itu.

"Ditengok dulu pernah tapi suaminya keluar bilang ngga ada masalah apa-apa," ucapnya.

Rohayati mengatakan, rumah tangga korban dengan suaminya memang sering cekcok.

Menurut penuturan Rohayati, Effendi dan Emma baru saja meniti rumah tangga kurang lebih satu tahun.

Meski baru satu tahun, Emma telah memiliki dua anak perempuan, hasil dari pernikahan sebelumnya. (Tribunnews.com)

Ajaib...!! Cerita Karmila Soal Detik-detik Kecelakaan Tanjakan Emen Yang Menyelamatkannya


Beritaterheboh.com -  Kabin bus menjadi gelap dan penuh debu. Karmila (44) terus melangkah menuju kaca depan bus yang sudah pecah.

Ia menginjakkan kakinya sedikit demi sedikit di atas tepian kursi penumpang bus yang sudah terbalik 90 derajat.

Dalam perjalanannya menuju pintu keluar, Mila sempat mendengar suara rintihan kawan-kawannya yang berada di bawah kursi tersebut.

Sambil coba menenangkan diri, Mila berusaha agar kakinya tidak menginjak tubuh tetangganya yang tengah kesakitan itu.

"Tolong, ya Allah. Tolongin, saya," rintih Mila menirukan suara teman-temannya yang menjadi korban laka maut bus pariwisata yang tengah menuju Ciater, Jawa Barat sore itu.

Ibu empat anak itu masih ingat ada beling di bawah kakinya setelah berhasil keluar dari bus maut.

Tapi ia tidak ingat mengapa kakinya tidak terluka sedikit pun walaupun menginjak pecahan kaca bus itu.

Ia juga masih ingat betapa pegal lengan dan pergelangan tangannya usai mencengkram besi tirai sebelum bus yang ditumpanginya terguling di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.

"Saya sudah tahu bus oleng ke kanan dan ke kiri. Waktu itu saya berdiri dan bisa melihat dengan jelas ada sepeda motor yang menyalip. Saya cuma bisa fokus dan mencari pegangan," ungkap Mola mengingat apa yang menimpa dirinya.

Sisi kiri atas bus itu membentur tanah dua kali.

Kali pertama membuat kaca di bus itu pecah, dan kali kedua membuat sebagian penumpang di bagian kursi penumpang sebelah kiri terlempar keluar.

Ia takut bus itu akan meledak.

Hanya maut dan keluarganya yang ada dalam pikirannya, namun Mila melawannya.

Ia bertekad harus hidup.

"Mati. Mati. Tapi saya ingat keluarga, anak-anak, saya harus tetap hidup. Pokoknya, gimana caranya saya bisa hidup. Saya cuma takut kalau meledak," ungkap Mila.

Setelah berhasil mempertahankan hidupnya dan keluar dari bus, Mila kemudian mencari pertolongan.

Ia sempat kesal dan menangis karena warga yang ada tak mau meminjamkan ponsel kepadanya.

Dengan alasan tidak ada pulsa, mereka hanya merekam kejadian itu dengan ponselnya.

Ia bahkan sempat mengingat ponsel dalam tasnya yang masih berada di dalam bus ketika itu.

"Kesel banget. Mau minjem hp buat nelpon dia (menunjuk suami yang ada di sampingnya-red), mereka cuma nge-shoot nge-shoot aja. Bilang nggak ada pulsa," ungkap Mila.

Setelah beberapa saat, lalu lintas di tanjakan Emen itu menjadi macet.

Namun tidak ada seorang pun yang berani menolongnya. Petugas kepolisian lalu datang dan membawa Mila ke poliklinik di dekat lokasi kejadian.

Sementara korban lainnya dibawa ke RSUD Subang. Karena tidak ada luka serius di tubuhnya, proses pengobatannya tidak berlangsung lama.

Namun ia merasa sangat kelelahan karena petugas kepolisian yang membawanya terus menerus menanyainya.

"Capek banget rasanya, karena saya jadi salah satu saksi yang ditanya terus-terusan sama polisi," kata Mila.

Di hari ketiga setelah kejadian, seluruh tubuh Mila baru terasa sakit.

Seluruh badannya baru saja selesai diurut.

Kakinya yang sempat bengkak di hari pertama kini sudah lebih baik.

Namun ia mengaku masih ingin diurut lagi.(Tribunnews.com)

Merinding! Sebelum Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen, Agus Unggah Status Soal Kematian


Beritaterheboh.com -  Jelang ajal datang, Agus Waluyo, korban tewas kecelakaan maut menorehkan sejumlah ciutan di laman facebook pribadinya.

Tidak tanggung-tanggung, pria berusia 45 tahun itu menuliskan soal kematian di laman Facebooknya.

Status pertama diunggah pada tanggal 6 Februari 2018. Ia menciut perihal muhasabah diri.

Tidak lama kemudian, Agus mencuit status kedua pada tanggal yang sama. Kali ini Agus mulai bicara soal kematian.

Kita harus menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangatlah terbatas. Dibatasi oleh kematian yang kedatangannya bisa sangat tiba-tiba atas kehendak Allah SWT. Dan, jika kita mati maka tidak ada satupun sekecil apapun yang bisa kita bawa dari dunia ini. Keluarga kita, harta kekayaan kita, semua akan ditinggalkan. Yang kita bawa tidak lain hanyalah catatan amal perbuatan kita."

Status ketiga, Agus kemudian mengunggah soal kematian kembali. Ciutan ini dua hari jelang kecelakaan maut di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.

"Banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka akan tetap kekal. dan banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka orang mati yang tak berguna -Imam Syafi'i-"



 Sejumlah rekan yang mengenal sosok Agus Waluyo menengarai, status yang diunggah sebagai bagian firasat.

Ucapan belasungkawa dan doa-doa pun dipanjatkan oleh rekan-rekan yang mengenal beliau.

Agus dimakamkan di Ciamis, Jawa Barat pada Minggu (11/2/2018).

Ia meninggalkan satu orang istri, dua orang anak perempuan, dan satu orang anak laki-laki.

Agus Waluyo merupakan laki-laki satu-satunya dari total 27 korban tewas kecelakaan bus di tanjakan Emen, Subang, Sabtu (10/2/2018).

Agus Waluyo hendak mengunjungi ibunya di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat.


Kisah korban selamat yang sempat pinjam hp ke warga tapi dicuekin

Terpisah, Karmila, perempuan berusia 44 tahun masih mengingat peristiwa yang merenggut sejumlah karibnya tersebut.

Menurutnya, saat kecelakaan terjadi kabin bus menjadi gelap dan penuh debu. Karmila terus melangkah menuju kaca depan bus yang sudah pecah.

Ia menginjakan kakinya sedikit demi sedikit di atas tepian kursi penumpang bus yang sudah terbalik 90 derajat.

Dalam perjalanannya menuju pintu keluar, Mila sempat mendengar suara rintihan kawan-kawannya yang berada di bawah kursi tersebut.

Sambil coba menenangkan diri, Mila berusaha agar kakinya tidak menginjak tubuh tetangganya yang tengah kesakitan itu.

"Tolong, ya Allah. Tolongin, saya," rintih Mila menirukan suara teman-temannya yang menjadi korban laka maut bus pariwisata yang tengah menuju Ciater, Jawa Barat sore itu.

Ibu empat anak itu masih ingat ada beling di bawah kakinya setelah berhasil keluar dari bus maut.


Tapi ia tidak ingat mengapa kakinya tidak terluka sedikit pun walaupun menginjak pecahan kaca bus itu.

Ia juga masih ingat betapa pegal lengan dan pergelangan tangannya usai mencengkram besi tirai sebelum bus yang ditumpanginya terguling di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.

"Saya sudah tahu bus oleng ke kanan dan ke kiri. Waktu itu saya berdiri dan bisa melihat dengan jelas ada sepeda motor yang menyalip. Saya cuma bisa fokus dan mencari pegangan," ungkap Mola mengingat apa yang menimpa dirinya.

Sisi kiri atas bus itu membentur tanah dua kali.

Kali pertama membuat kaca di bus itu pecah, dan kali kedua membuat sebagian penumpang di bagian kursi penumpang sebelah kiri terlempar keluar.

Ia takut bus itu akan meledak.

Hanya maut dan keluarganya yang ada dalam pikirannya, namun Mila melawannya.

Ia bertekad harus hidup.

"Mati. Mati. Tapi saya ingat keluarga, anak-anak, saya harus tetap hidup. Pokoknya, gimana caranya saya bisa hidup. Saya cuma takut kalau meledak," ungkap Mila.

Setelah berhasil mempertahankan hidupnya dan keluar dari bus, Mila kemudian mencari pertolongan.

Ia sempat kesal dan menangis karena warga yang ada tak mau meminjamkan ponsel kepadanya.

Dengan alasan tidak ada pulsa, mereka hanya merekam kejadian itu dengan ponselnya.

Ia bahkan sempat mengingat ponsel dalam tasnya yang masih berada di dalam bus ketika itu.

"Kesel banget. Mau minjem hp buat nelpon dia (menunjuk suami yang ada di sampingnya-red), mereka cuma nge-shoot nge-shoot aja. Bilang nggak ada pulsa," ungkap Mila.

Setelah beberapa saat, lalu lintas di tanjakan Emen itu menjadi macet.

Namun tidak ada seorang pun yang berani menolongnya. Petugas kepolisian lalu datang dan membawa Mila ke poliklinik di dekat lokasi kejadian.

Sementara korban lainnya dibawa ke RSUD Subang. Karena tidak ada luka serius di tubuhnya, proses pengobatannya tidak berlangsung lama.

Namun ia merasa sangat kelelahan karena petugas kepolisian yang membawanya terus menerus menanyainya.

"Capek banget rasanya, karena saya jadi salah satu saksi yang ditanya terus-terusan sama polisi," kata Mila.

Di hari ketiga setelah kejadian, seluruh tubuh Mila baru terasa sakit.

Seluruh badannya baru saja selesai diurut.

Kakinya yang sempat bengkak di hari pertama kini sudah lebih baik.

Namun ia mengaku masih ingin diurut lagi.(Tribunnews.com)

Lambaian Tangan Terakhir Korban Kecelakaan di Tanjakan Emen yang Sulit Dilupakan dan Bikin Merinding. Lihat Videonya!


Beritaterheboh.com - Ada satu hal yang tak bisa dilupakan Juju (43) saat bepergian ke Bandung dan Subang bersama rekan-rekannya di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata Ciputat, Sabtu (10/2/2018).

Juju adalah seorang warga Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel), yang ikut dalam rombongan KSP Permata saat ikut rapat akhir tahun (RAT) di Bandung.

Selepas acara tersebut dan hendak berwisata ke Ciater, salah satu bus mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang, dan menewaskan 27 orang yang 26 di antaranya adalah anggota KSP Permata.

"Semua di bus satu itu dada-dada karena memang jalan duluan. Itu yang membekas banget buat saya," cerita Juju, saat ditemui di Taman Makam Legoso, Minggu (11/2/2018).

Sambil sesekali mengusap air mata, Juju melanjutkan ceritanya. Lambaian tangan seperti saat awal berangkat pun kembali dia lihat.

Baca juga: Polisi Duga Kecelakaan di Tanjakan Emen akibat Rem Bus Tak Berfungsi

Namun, kali ini bukan karena kegembiraan akibat bisa berjalan-jalan, melainkan sebagai sebuah tanda minta tolong.

"Awalnya saya enggak tahu kalau itu bus rombongan, tapi begitu ada yang melambaikan tangan, saya tahu itu teman-teman saya karena pakai seragam hitam oranye," jelas Juju.

Saat itu Juju berada di dalam bus tiga dan berjarak sekitar dua menit dengan bus satu yang mengalami kecelakaan. Wanita tersebut pun menyesal ketika itu tidak bisa banyak membantu teman-temannya yang menjadi korban.

"Waktu itu lama enggak ada yang menolong mereka. Saya sendiri enggak kuat mau menolong mereka," ungkap Juju sambil terisak sedih di dekat pusara salah seorang temannya yang menjadi korban, Teti Sumiati.

Sebelumnya diberitakan, kecelakaan maut menimpa satu bus rombongan KSP Permata Ciputat. Sekitar 150 orang rombongan koperasi itu menaiki tiga bus yang tengah melakukan kegiatan di kawasan Bandung dan Subang, Jawa Barat.

Satu bus yang berada di depan terguling saat melintasi Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. Penyebab kecelakaan bus diduga mengalami rem blong, sedangkan dua bus lainnya selamat.

Istri dari Anggota Ormas LPI Tangsel Jadi Korban Kecelakaan Subang, Postingan Terakhirnya Di Facebook Bikin Haru!


Beritaterheboh.com - Seorang korban pada kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat ternyata merupakan istri dari anggota Laskar Pembela Islam (LPI) Markas Wilayah (Malwil) Tangerang Selatan, Budi Setiawan.

Hal itu disampaikan oleh seorang pengguna akun Facebook yang merupakan rekan Budi, Syaifi Al Fatih.

Di postingannya itu, ia mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian Oktika Trisnawati, istri Budi.

Begini yang ia tulis :

"Kami keluarga besar MAWIL LPI Tangsel turut berbela sungkawa atas meninggalnya istri dari saudara seperjuangan kami Budi Setiawan anggota dari DPC CIPUTAT TIMUR akibat musibah lakalantas di subang tadi sore dengan bis yg menggankut ibu2 pkk yaitu: almarhumah Oktika Trisnawati

SEMOGA Allah SWT Menerima Amal ibadahnya,Memaafkan Kesalahannya, Menjadikan Quburnya Taman Surga,diangkat Derajatnya & Surga Tempanya, Juga Keluarga & Santri serta alumninya yang ditinggalkan diberikan Kesabaran & Ketawakalan Lillahi Ta’ala...Aamiin YRA"

Tak hanya itu, ucapan bela sungkawa juga disampaikan pengguna akun Facebook ‎Echa Sobana‎ di Grup Facebook Masyarakat Cinta Bogor.

Ia memposting foto kondisi bus saat mengalami kecelakaan dan foto semasa hidup almarhum Oktika Trisnawati bersama anak laki-lakinya.

Innalillahi wainnailaihirojiun slamat jalan oktika trisnawati smoga amal ibadahmu di terima allah swt dan kluarga yg di tinggalkan diberi ketabahan..

Korbannya temen sekolah dan tetangga2 beda RT smoga para korban yg meninggal dalam keadaan husnul khotimah..aamin," tulisnya.


Saat ditelusuri ke akun Facebooknya, wanita yang akrab disapa Tika itu baru memperbaharui foto profile Facebooknya.

Di foto itu iatampak mengenakan jilbab ungu dan wajahnya sedang menengok ke samping kanan.

Ia mengenakan jam tangan hitam dengan angka menunjukkan 10:11 jika dilihat terbalik.

Ia juga menggunakan cover dengan tulisan begini :

"Keadaan perempuan paling dekat dengan keredhoan Allah ta'ala adalah ketika mereka berada di dalam rumahnya jauh dari pandangan lelaki"(Tribunnews.com)

Bikin Merinding! Cerita Suami yang Istrinya Lolos dari Kecelakaan di Tanjakan Emen


Beritaterheboh.com - Bus pariwisata yang terguling di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat merupakan satu dari tiga rombongan bus pariwisata. Namun, bus itu melaju kencang dan meninggalkan rombongan lain di belakang.

"Jadi istri saya (Musrifah) selamat, dia naik bus 3, yang kecelakaan itu bus 1. Bus satu posisinya jauh di depan bus di belakangnya. Sedangkan bus 2 dan 3 rombongan," kata salah satu warga Pisangan, Suwarno, saat ditemui di Kantor Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Minggu (11/2/2018).

Rombongan penyewa bus adalah Koperasi Permata yang berlibur ke Tangkuban Perahu. Mereka berangkan Sabtu pagi (10/2), kemudian pulang pada malam hari. Namun dalam perjalanan pulang, tiba-tiba bus tersebut terguling den menabrak motor sebelah kiri.

Musrifah tidak langsung sadar bus 1 kecelakaan. Sampai akhirnya bus yang dia tumpangi melewati bus 1 yang sudah terguling.

"Katanya, tahu ada kecelakaan tapi enggak sadar. Pas makin deket, kok seragamnya sama," kata Suwarno.

Suwarno mengatakan Musrifah sempat shock setelah melihat puluhan orang tegeletak. Dia dan beberapa rombongan sempat berhenti. 

"Pas pertama kali telepon dia nangis, sambil di belakang ada suara ambulans. Terus mati lagi sampai telepon ketiga baru bisa cerita. Bus lain langsung dibawa ke Polres Subang," ucap Suwarno. 

Suwarno sempat berniat menyusul istrinya ke Subang, seperti beberapa keluarga korban lainnya. Namun, dia urung karena istrinya melarang.

Sampai saat ini, Suwarno belum mengetahui kapan korban beserta rombongan lain kembali ke Pisangan. Informasi yang didapat Suwarno hanya sebatas jenazah 27 korban meninggal dunia diurus di RSUD Subang.

"Jadi semuanya termasuk dimandikan juga di RSUD Subang. Belum tahu kapan mereka akan datang ke Pisangan," katanya. 

Ibu Korban Kecelakan Bus Tanjakan Emen Ternyata Sudah Punya Firasat Buruk

 Kecelakaan bus terjadi di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang , Jawa Barat, pada hari Sabtu (10/2/2018),

Bus ini mengangkut rombongan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata, Legoso, Ciputat, Tangerang Selatan.

Seorang wanita yang bernama Muhaya mengatakan anak laki-lakinya ikut dalam rombongan bus yang terlibat kecelakaan tersebut.

Baca: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Sabu-sabu Seberat 1 Ton

"Firasat saya sudah tidak enak, mau ngelarang tapi tidak bisa," ucap Muhaya kepada TribunJakarta.com

Anak laki - laki Muhaya, berada di dalam daftar korban yang menderita luka ringan.


Muhaya mengatakan awalnya ia mendapat kabar bahwa anaknya berada di bus nomor tiga.

Setelah mendapat informasi lebih lanjut, anak laki - lakinya berada di dalam bus yang mengalami kecelakaan.

"Ketika mendapat kabar anak saya berada di bus nomor 1, badan saya langsung lemas dan keringat dingin," ujar Muhaya, Minggu (11/2/2018).(detik.com)

Kecelakaan di Tanjakan Emen Ciater, 15 Tewas dan Masih Banyak Korban Terjepit. Lihat Videonya Bikin Merinding!


Beritaterheboh.com -  Kecelakaan terjadi di Tanjakan Emen, Ciater, Subang, Jawa Barat. Seorang saksi menyebutkan, 15 penumpang meninggal. Selain korban meninggal, masih banyak korban yang terjepit bus.

"Ada 15 orang yang meninggal. Tapi sepertinya masih bisa bertambah karena masih ada yang kegencet bus," ujar saksi, Neneng Yunengsih, kepada Liputan6.com, Sabtu (10/2/2018).

Menurut dia, petugas sedang berusaha mengevakuasi korban. Ambulans pun sudah bersiap di lokasi kecelakaan.

"Tadi katanya petugas mau belah busnya," kata Neneng sambil tersedu ketika dihubungi Liputan6.com.

Saksi menuturkan, dia bersama tetangga-tetangganya ingin berwisata ke Lembang dan berangkat pukul 06.30 WIB tadi. Rencananya, malam ini mereka langsung pulang.

Rombongan merupakan warga Kampung Legoso, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

"Kami serombongan ada tiga bus. Satu bus yang kecelakaan, 15 orang meninggal tapi kemungkinan bisa bertambah. Sudah ada polisi," ujar Neneng yang berada di bus yang tidak terlibat kecelakaan.

"Bus pariwisata bernopol F 7959 AA tersebut diduga menabrak sebuah rambu-rambu lalu lintas," kata Juru Bicara Basarnas Jawa Barat, Joshua Banjarnahor, kepada Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (10/2/2018).

Hal itulah yang menyebabkan bus terguling. Polsek Jalan Cagak sudah berada di lokasi kejadian. Korban dievakuasi ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.

Sementara, seorang saksi menyebutkan, 15 penumpang meninggal. Dia mengatakan masih banyak korban kecelakaan yang terjepit bus.

"Ada 15 orang yang meninggal. Tapi sepertinya masih bisa bertambah karena masih ada yang kegencet bus," ujar saksi, Neneng Yunengsih, kepada Liputan6.com.(Liputan6.com)
. .
. .

Polisi Datangi Rumah Pemilik SUV Mewah yang Tabrak Lari Produser RTV. Begini Kondisinya Sekarang!


Jenazah Raden Sandy Syafiek, Produser RTV di RSCM saat akan dibawa mobil ambulans menuju Bandung, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018). (Suara.com/Nikolaus Tolen)


Beritaterheboh.com - Produser Rajawali TV (RTV) Raden Sandy Syafiek ditabrak lari oleh sebuah mobil bernomor polisi B 2765 SBM, yang identitasnya belum diketahui. 

Akibat tabrakan tersebut, Sandy yang sedang bersepeda di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, meninggal dunia, setelah sebelumnya sempat dilarikan ke Rumah Sakit Jakarta.

Setelah dinyatakan meninggal, jenazah Sandy dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk diautopsi. Berdasarkan pantauan Suara.com, keluarga dan kerabat Sandy sudah mendatangi RSCM.

Raymond Rerimasi, Om dari Sandy mengatakan bahwa jenazah keponakannya akan dimakamkan di Bandung, Jawa Barat. Karena itu keluarga dan kerabat Sandy berkumpul di Ruang Transit Jenazah untuk mengantar kepergian Sandy.

"Sekarang kita mau ke Bandung, nanti dimakamkan di sana, hari ini juga. Untuk keluarga, kerabat, dan teman Sandy saat masih kecil, saya memwakili Sandy, mohon maaf apabila ada kesalahan  selama ini," katanya saat sebelum mengantar jenazah Sandy ke mobil ambulans menuju Bandung di RSCM, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/2/2018).

Raymond yang mewakili keluarga Sandy berharap pelaku tabrak lari segera bertanggung jawab dengan perbuatannya. Dia berharap pelaku segera meminta maaf dan menyerahkan diri.

"Kalau orang yang menabrak bertanggung jawab kami berharap segera meminta maaf dan menyerahkan diri, kalau nggak pasti akan dipidanakan," kata Raymond.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan dari Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Pagarra peristiwa yang mengorbankan Sandy dan satu pengendara sepeda motor tersebut terjadi di depan gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Gatot Subroto.

Kondisi Sandy usai ditabrak adalah bibir atasnya mengalami luka robek, pelipis kiri robek dan kepala pecah. Adapun barang bukti dalam peristiwa ini adalah satu unit sepeda angin milik Sandy.

Dalam laporannya Halim menceritakan kronologi terjadinya persitiwa tersebut. Pada saat Kendaraan Mini Bus bernomor polisi B 2765 SBM yang dikemudikan orang yang tak diketahui identitas tersebut melaju dari arah Timur menuju Barat di Jalan Jenderal Gatot Subroto Wilayah Jakarta Selatan. 

"Sesampainya di tempat kejadian perkara, tepatnya di depan LIPI di duga kurang hati-hati, akhirnya bumper depan menabrak roda belakang sepeda angin yang dikendarai sdr. Raden Sandy Syafiek, yang berada di depannya kemudian terpental ke depan dan terjatuh," kata Halim.

Akibat kejadian tersebut Raden Sandy Syafiek mengalami luka dan di bawa ke RS Jakarta untuk perawatan. Sementara setelah kejadian pengemudi Kendaraan Mini Bus Nopol B-2765-SBM meninggalkan TKP.

Polisi Datangi Rumah Pemilik SUV Mewah yang Tabrak Lari Produser RTV

Polisi telah mendapatkan identitas dan alamat rumah pengendara mobil SUV mewah yang menabrak pesepeda, Raden Sandy Syafiek, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Polisi mendatangi rumah pengendara mobil tersebut.

"Belum ketemu. Anggota sedang cek, sudah didapat alamatnya," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra saat dimintai konfirmasi, Sabtu (10/2/2018).


Halim belum menjelaskan secara detail alamat rumah pengendara mobil itu. Halim hanya mengatakan anggotanya telah diperintahkan menemui pemobil tersebut. Informasi yang dihimpun, pemilik mobil itu tinggal di wilayah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jaksel.

"Saya perintahkan (anggota) ke sana," ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan kecelakaan tersebut memakan korban jiwa. Korban meninggal dunia atas nama Raden Sandy Syafiek, yang merupakan salah seorang produser di stasiun televisi RTV.

"Informasi terakhir demikian. RS," kata Budiyanto.


Kecelakaan tersebut terjadi pada pukul 06.20 WIB pagi tadi. Rombongan pesepeda dari Bekasi melintas di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di dekat kantor LIPI dan tertabrak oleh mobil SUV mewah.

Informasi mengenai kecelakaan itu juga tersebar luas di media sosial dan aplikasi percakapan WhatsApp. Informasi itu pun disertai foto-foto kecelakaan. (detik.com/suara.com)
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com